Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Kabupaten Situbondo
Susu di bawah ini telah disesuaikan dengan syarat penggunaan susu di SPPG pada NODIN Deputi Bidang Sistem Tata Kelola Nomor: 28/05.00/ND/09/2026:
Catatan: Semua jenis susu wajib susu Fullcream / Plain, bukan Vanila / Berasa.
Rumus Perhitungan Per Item:
Rumus Perhitungan Bumbu:
Situbondo, 25 September 2026
Korwil BGN Kabupaten Situbondo
(Moh. Faizi, S.M.)
| MENU | PENJELASAN |
|---|---|
| Seluruh olahan mie (mie kuning, bihun, pasta) | Produk olahan tepung yang umumnya membutuhkan bumbu/saus tambahan dan berpotensi meningkatkan natrium. Dalam MBG, nasi lebih mudah distandarkan berat porsinya dan komposisi menunya. |
| Nasi goreng | Penggunaan minyak dan bumbu lebih banyak sehingga kontrol lemak dan natrium lebih sulit. Nasi putih lebih mudah dikontrol berat dan komposisinya. |
| Nasi kuning | Penggunaan santan/minyak dapat menambah lemak dan membuat pengendalian komposisi gizi lebih kompleks. |
| Nasi uduk | Penggunaan santan memberikan tambahan lemak dan memerlukan kontrol komposisi yang lebih ketat dalam produksi massal. |
| Nasi berwarna | Perlu memastikan sumber warna dan bahan tambahan yang digunakan sesuai ketentuan. Nasi putih lebih sederhana untuk distandarkan. |
| Segala jenis bubur | Kadar air dan tekstur membuat standar berat/porsi serta konsistensi energi lebih sulit dikendalikan. Makanan basah juga membutuhkan perhatian pada waktu, suhu, dan distribusi. |
| Jasuke | Kombinasi jagung, susu/keju dan bahan tambahan dapat meningkatkan energi, lemak, atau gula tergantung formulasi; lebih sulit ditempatkan sebagai komponen utama menu MBG. |
| MENU | PENJELASAN |
|---|---|
| Bakso berkuah | Kuah menambah kompleksitas distribusi, menjaga suhu, dan risiko tumpahan. Produk bakso juga merupakan pangan olahan yang perlu dikontrol komposisi dan natriumnya. |
| Produk beku/frozen | Memerlukan rantai dingin yang konsisten dari penyimpanan sampai pengolahan. Kontrol suhu dan kondisi produk menjadi lebih ketat. |
| Ayam suwir | Bukan karena ayam tidak bergizi. Ayam tetap sumber protein yang baik. Pertimbangannya lebih pada bentuk penyajian, kontrol ukuran serat, potensi kekeringan, dan standardisasi porsi, dan proses pengolahannya. |
| Ikan laut | Bukan berarti ikan laut tidak bergizi. Pertimbangan dapat berkaitan dengan duri, keseragaman bahan, kesegaran, penerimaan anak, dan pengendalian keamanan pangan khususnya potensi alergi, serta perlu perhatian khusus karena ikan tinggi histamin yang berpotensi menyebabkan keracunan makanan yang disebut Srombotoxin Fish Poisoning (FSP). |
| MENU | PENJELASAN |
|---|---|
| Segala jenis jamur | Membutuhkan pengendalian bahan baku, kebersihan, dan penyimpanan. Pembatasan membantu standardisasi bahan dan pengawasan dalam produksi massal. |
| Kecambah | Membutuhkan penanganan higiene yang baik karena kondisi lembap dapat mendukung pertumbuhan mikroorganisme. Dalam MBG, keamanan pangan menjadi pertimbangan utama. |
| MENU | PENJELASAN |
|---|---|
| Buah olahan | Dapat mengandung tambahan gula, sirup, atau bahan tambahan lain. Buah segar lebih mudah dikontrol komposisinya. |
| Salak | Kulit dan biji harus dipisahkan. Bentuk dan biji perlu diperhatikan terutama saat penyajian untuk anak usia dini. |
| Sawo | Tekstur sangat lunak dan memiliki biji; tingkat kematangan juga cepat berubah sehingga perlu kontrol mutu. |
| Manggis | Memerlukan pengupasan dan pemisahan bagian yang tidak dimakan sehingga penanganannya kurang praktis untuk distribusi massal. |
| Segala jenis jambu | Beberapa jenis memiliki banyak biji dan tekstur tertentu yang perlu diperhatikan untuk penyajian pada kelompok usia tertentu. |
| Rambutan | Kulit dan biji keras harus dipisahkan dengan baik untuk mengurangi risiko tersedak. |
| Nanas | Memerlukan pengupasan dan pemotongan yang tepat. Keasaman dan teksturnya dapat memengaruhi daya terima sebagian anak. |
| Mangga | Tingkat kematangan memengaruhi tekstur dan daya simpan; buah terlalu matang lebih mudah rusak selama distribusi. |
| MENU | PENJELASAN |
|---|---|
| Soto | Berbasis kuah sehingga membutuhkan kontrol suhu dan wadah lebih ketat selama distribusi serta memiliki risiko tumpah lebih tinggi, disisi lain lebih berpotensi terjadian KM. |
| Makanan bersantan | Dapat meningkatkan kandungan lemak dan memerlukan pengendalian suhu serta waktu distribusi yang baik. |
| UPF (Ultra Processed Food) | Pembatasan pangan ultra-proses membantu menjaga menu berbasis bahan pangan yang lebih sederhana dan memudahkan pengendalian gizi serta bahan tambahan. |
| Sambal pedas | Daya terima anak menjadi pertimbangan. Rasa pedas tidak sesuai untuk semua kelompok usia dan dapat menyebabkan ketidaknyamanan pada sebagian anak. |
| Puding | Bergantung formulasi, dapat mengandung gula dan bahan tambahan. |
| Makanan dengan cuka | Keasaman kuat dapat menurunkan daya terima sebagian anak dan penggunaannya perlu dikontrol dalam formulasi. |
| Keripik tempe / semua jenis keripik | Penggorengan meningkatkan lemak dan energi. Keripik juga cenderung lebih tinggi garam dibanding bahan pangan utamanya. |